PENISILIN

Sejak
pertama kali diteliti oleh Fleming pada tahun 1929 melalui koloni stafilokokus
yang terkontaminasi Penisilium, penisilin menjadi antibiotika pertama yang
digunakan dalam klinik secara luas. Batas antara dosis terapi dan dosis toksik
sangat lebar, sehingga relatif aman dibanding antibiotika yang lain. Penisilin
kurang poten terhadap bakteri gram negatif, dan sebagian besar dirusak oleh
beta-laktamase (penisilinase). Beta-laktamase biasanya dihasilkan oleh Stafilokokus
aureus, beberapa E. coli, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas
aeruginosa.
Secara
umum penisilin didistribusikan dengan baik ke seluruh bagian tubuh, mencapai
kadar terapetik di pleura, peritoneal, abses, dan cairan sinovial. Distribusi
ke mata dan otak relatif sedikit, sedangkan kadarnya di urin cukup tinggi.
Kadar penisilin di cairan serebrospinal kurang dari 1% dari nilai plasma pada
kondisi meninges yang tidak inflamasi, dan kadar ini meningkat hinggga 5%
kadar dalam plasma, selama proses inflamasi.
A. Mekanisme aksi
Penisilin bersifat bakterisidal, dengan efek utama menghambat sintesis dinding sel bakteri yang sedang aktif membelah, sehingga dinding sel menjadi lemah, lisis, dan menyebabkan kematian bakteri
B. Farmakokinetik
Sebagian besar penisilin hanya
dapat diberikan per parenteral karena dirusak oleh asam lambung, kecuali
penisilin V, amoksisilin, ampisilin, dan flukloksasilin yang dapat diberikan
per oral. Ampisilin sebaiknya diberikan pada saat perut kosong atau di antara 2
makan, karena absorpsinya terganggu oleh adanya makanan dalam lambung.
Di dalam tubuh, penisilin
terdistribusi secara luas ke seluruh jaringan dan cairan tubuh, dengan
penetrasi ke persendian, pleura, dan mata, terutama jika terjadi radang
(inflamasi). Seperti halnya antibiotika pada umumnya, konsentrasi penisilin di
dalam cairan serebrospinal (CSS) dan penetrasinya ke jaringan tergantung pada
ikatan obat pada protein serum. Sebagai contoh protein binding dari oksasilin
dan nafsilin relatif tinggi (>90%), dengan penetrasi ke CSS yang buruk.
Sedangkan protein binding dari ampisilin (± 30%) relatif rendah, dan penetrasi
ke CSS jauh lebih baik.
Penisilin termasuk very low
dose-related toxicity (efek toksik obat karena penambahan dosis, relatif
kecil). Dengan demikian, penambahan dosis untuk meningkatkan konsentrasinya
dalam jaringan yang inflamsi jarang menimbulkan efek samping.
C.
Eliminasi Penisilin
Proses eliminasi penicillin terbagi menjadi 2 tahap :
1. Metabolisme
Hati merupakan tempat utama untuk
metabolisme obat.
·
jalur metabolisme
Metabolisme obat meliputi berbagai
macam reaksi kimia diantaranya adalah oxidasi, reduksi, hydrolysis, hydrasi,
konjugasi, kondensasi dan isomerasi.Enzim yang berpengaruh dalam berbagai
reaksi diatas terdapat pada berbagai jaringan tetapi paling banyak terdapat
pada hati. Proses metabolisme berbagai obat termasuk penicillin terbagi menjadi
2 phase yaitu phase pertama adalah pembentukan modifikasi baru dari materi2
obat (contoh oxidasi, reduksi, hydrolysis) phase pertama ini merupakan reaksi
non sintesis. Phase kedua meliputi konjugasi dengan komponen endogenous (contoh
asam glucuronic, sulfate, glycine) phase ini merupakan reaksi sintesis.
Pembentukan metabolit pada reaksi sintesis lebih polar dan siap untuk
diekskresikan oleh ginjal dalam bentuk urin sedangkan metabolit yang terbentuk
pada reaksi nonsintesis diekskresikan oleh hati dalam bentuk empedu.
·
Cytochrome P-450
Merupakan system enzim yang peling
penting pada phase pertama. Cytochrome P-450 merupakan superfamily microsomal
isoenzim yang mentransfer dan mengkatalis oxidasi berbagai obat. Elektron di
suplai oleh NADPHcytochrome P-450 reduktase, enzim ini merupakan flavoprotein
yang mentransfer electron dari NADPH ke cytochrome P-450
·
Konjugasi
Reksi yang paling umum terjadi dalam
phase kedua adalah glucuronidasi yang merupakan satu satunya reaksi yang
terjadi pada system enzim microsomal hati.
2. Ekskresi
Ginjal merupakan
organ utama dalam proses ekskresi. Ginjal hanya mengekskresikan zat-zat yang
larut dalam air. Sistem biliary membantuk mengekskresikan obat-obat yang tidak
di serap oleh traktus GI. Selain itu ekskresi juga terjadi pada intestinum,
saliva, keringat dan paru-paru tetapi ini hanya sebagian kecil.
·
ekskresi ginjal
o
Filtrasi glomerulus dan
reabsorbsi tubular.
Sekitar 1/5 plasma yang mencapai glomerulus
di filtrasi melalui pori-pori endhotelium glomerular sedangkan sisanya melewati
arteriol efferent tubulus renalis. Obat-obat yang berikatan dengan plasma
protein tidak dapat difiltrasi oleh glomerulus sehinga hanya obat-obat yang
tidak berikatan dengan plasma protein yang terkandung dalam filtrate
glomerulus. Prinsip-prinsip lintasan transmembran berpengaruh pada reabsorbsi
obat. Materi-materi polar dan berion tidak dapat berdifusi kembali kedalam
system sirkulasi dan langsung diekskresikan oleh ginjal kecuali bila ada
mekanisme transport khusus untuk reabsorbsi.
·
Sekresi tubular
Mekanisme sekresi tubular aktif di
tubulus proximal sangat penting untuk eliminasi penicillin. Energi yang
digunakan untuk eliminasi ini dapat di blok oleh inhibitor metabolic. Reaksi
anion dan kation dipisahkan oleh mekanisme transport. Pada umumnya, Anion
sekretory system mengeliminasi metabolit yang berkonjugasi dengan glycine,
sulfate, ataupun asam glucuronic. Senyawa-senyawa anionic bersaing dengan yang
lain untuk proses sekresi ini dan kompetisi ini dapat digunakan untuk therapi
contohnya probenecid yang akan memblok sekresi tubular penicillin sehingga
konsentrasi penicillin dalam plasma menjadi tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Masa paruh penicillin dalam darah normalnya sekitar 30 menit dan masa paruh eliminasi
penicillin dalam darah ini akan diperpanjang oleh probenesid menjadi 2-3 kali
lebih lama. Selain probenesid, beberapa obat lain juga meningkatkan masa paruh
eliminasi penicillin dalam darah, antara lain fenilbutazon, sulfinipirazon,
asetosal dan indometasin. Kegagalan fungsi ginjal sangat mempengaruhi ekskresi
penicillin, yang antara lain tergambar dalam perpanjangan masa paruh eliminasi
penicillin dalam darah; contohnya masa paruh karbenisilin dalam darah yang pada
ginjal sekitar 60 menit, memanjang menjadi 15 jam. Kumulasi umumnya tidak
terjadi karena peningkatan biotransformasi di hepar. Organic kation akan
bersaing dengan yang lain tetapi biasanya tidak dengan anion.
·
Ekskresi biliary
Obat dan metabolitnya yang
diekskresikan dalam bentuk empedu di transportasikan melalui epithelium biliary
dan melawan gradient konsentrasi. Substansi dengan physicochemical property
akan bersain untuk proses ekskresi bila melalui mekanisme yang sama. Obat
dengan berat molekul >300 g/mol dan kelompok yang polar maupun lipophilic
lebih sering diekskresikan melaui bentuk empedu.Konjugasi terutama dengan asam
glucuronic juga sering diekskresikan melalui system biliary.
Berikut
contoh obat yang dapat memperpanjang waktu paruh penisilin
Probenecid
Nama pasar : Benemid
Probenecid bekerja
pada tubulus ginjal dan dapat meningkatkan ekskresi asam uric sehingga
menurunkan level asam uric dalam darah. Obat ini dapat membantu terapi pasien
yang mempunyai tingkat asam uric yang tinggi dalam darah (hyperuricemia) yang
bergabung dengan serangan asam urat arthritis.
Probenecid dapat
juga memblok ekskresi tubuler penicillin sehingga dapat mempertahankan tingkat
antibiotik yang lebih tinggi dalam darah dan efeknya diperpanjang. Ini berguna
untuk meningkatkan keefektifan penicillin dalam terapi infeksi-infeksi serius
seperti gonorrhea.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar